Pandawa Lima Dalam Mahabharata
Inilah Pandawa Lima dalam Mahabharata
Sri Mulyawati
Serial Mahabharata
yang ditayangkan oleh stasiun televisi ANTV ternyata mampu menarik
perhatian banyak pemirsa di seluruh Indonesia. Serial ini telah menjadi
daya tarik tersendiri lantaran para pemainnya yang bisa membuat istri
atau pacar anda bakal mengacuhkan keberadaan anda pada saat menonton
serial epik ini. Tokoh paling terkenal dalam serial ini adalah tokoh
lima orang bersaudara dari Hastinapura yang dikenal sebagai Pandawa
Lima. Nah, siapa saja dan apa saja kiprah dari lima tokoh Pandawa dari Mahabharata ini, mari kita berkenalan bersama mereka satu per satu.
Sebutan
Pandawa berasal dari sebuah kata dari bahasa Sansekera yang berarti ”
Anak Pandu “. Sebutan tersebut diberikan pada lima orang bersaudara yang
adalah juga anak-anak dari Raja Pandu Dewanata dari Hastinapura.
Disebutkan juga kalau kelima orang Pandawa itu merupakan titisan dari
dewa-dewa tertentu yang memiliki keahliannya masing-masing.
![]() |
| Pandawa lima dalam serial Mahabharata StarPlus |
Anak-anak
Pandu yang lahir dari dua orang ibu yang berbeda, yaitu Dewi Kunti yang
merupakan ibu dari yudhistira, Bimasena dan arjuna, sementara Dewi Madri
merupakan ibu dari si kembar Nakula dan Sadewa. Pada usianya yang masih
anak-anak, para putra-putra Pandu ini kerap berselisih dengan saudara
sepupu mereka, Kurawa. Perselisihan tersebut terjadi akibat hasutan dari
paman Kurawa yang bernama Sangkuni yang dikenal memiliki lidah tajam.
Setelah
Pandu dan Dewi Madri meninggal, Hastinapura dipegang oleh ayah Kurawa
yang juga saudara dari Pandu yang bernama Destrarasta. Saat itulah
Duryodana dibantu ke-99 adiknya memiliki keinginan untuk duduk sebagai
raja Hastinapura dan bertekad menyingkirkan para Pandawa dengan cara
apapun.
Sekarang mari kita berkenalan dengan para Pandawa anak Pandu yang merupakan tokoh protagonis dalam kisah epik Mahabharata ini.
1. PUNTADEWA ATAU YUDHISTIRA
Dalam serial
Mahabharata yang ditayangkan oleh Star Plus India dan ditayang ulang
oleh ANTV Indonesia, Tokoh Yudhistira diperankan oleh Rohit Bharadwaj.
Yudhistira terlahir dengan nama aslinya Puntadewa yang berarti memiliki
derajat keluhuran yang setara dengan para dewa. Sedangkan
sebutan/julukan lain Puntadewa atau Yudhistira adalah Ajatasaru,
Bharata, Dharmawangsa, Kurumukhya, Kurupati, Pandawa, Partha,
Gunatalikrama, dan Samiaji.
![]() |
| Yudhistira dalam pewayangan Indonesia |
Puntadewa
alias Yudhistira ini merupakan anak sulung dari Raja Pandu dan Dewi
Kunti, namun bisa disebut juga merupakan anak kedua dari Kunti karena
anak pertamanya yang bernama Karna diasuh oleh Adirata. Dalam kisah
disebutkan bahwa Yudhistira merupakan titisan Dewa Yama/Dharma karena
ulah Pandu yang salah sasaran sewaktu akan memanah seekor rusa sehingga
menerima kutukan sebelum dia sempat bercinta dengan istrinya.
Pandu
dikenal sebagai orang yang adil, jujur, sabar, relijius, percaya diri
dan berani berspekulasi. Dalam perjalanan hidupnya Yudhistira hampir
tidak memiliki musuh, karena memiliki sifat yang sangat bijaksana dan
tidak pernah berdusta. Hal ini pula yang akhirnya dimanfaatkan oleh
Sangkuni ketika merayunya untuk berjudi dadu, yang menyebabkan kekalahan
besar di pihak Pandawa dan merubah kisah Mahabharata menjadi sebuah
cerita yang menegangkan dan penuh konflik.
![]() |
| Sangkuni merayu Yudhistira untuk bermain dadu dengannya |
Keahlian
Yudhistira adalah menggunakan tombak, sebagaimana diajarkan oleh Resi
Druna (Dorna), dan dalam budaya Jawa, Yudhistira dikenal memiliki
beberapa pusaka yaitu Jamus Kalimasada, Tunggulnaga, dan Robyong
Mustikawarih.
Salah satu
kebiasaan buruk dari Yudhistira adalah senang bermain dadu, dan hal
tersebut benar-benar telah dimanfaatkan dengan baik oleh Sangkuni dan
Duryodana yang melalui kelicikan dan lidah tajamnya berhasil
mempengaruhi Yudhistira untuk bermain dadu dengannya dan mempertaruhkan
hartanya yang dimulai dari uang emas hingga kerajaan dan para
saudaranya. Bahkan Sangkuni pun berhasil mempengaruhi Yudhistira untuk
mempertaruhkan Drupadi!.
![]() |
| Drupadi dipermalukan oleh Duryodana yang telah memenangkannya dalam permainan dadu |
Karena
kekalahannya dalam bermain dadu, Yudhistira harus kehilangan Drupadi.
Duryodana yang tidak menyia-nyiakan kesempatan itu segera mengambil
tindakan untuk mempermalukan Drupadi yaitu dengan menelanjanginya di
hadapan para tetua, raja, dan penduduk Hastinapura. Mendengar jeritan
dan ratapan Drupadi, ibu para Kurawa yaitu Dewi Gandari segera masuk dan
menyuruh Duryodana untuk menghentikan permainan dan mengembalikan semua
yang telah dirampasnya.
Namun
beberapa hari kemudian, Duryodana kembali mengajak Yudhistira untuk
bermain dadu, dan hasilnya Yudhistira mengalami kekalahan yang membuat
dirinya dan saudaranya yang lain dibuang ke dalam hutan selama 12 tahun.
Para Pandawa
yang sedang menjalani masa pembuangan di hutan, dikejutkan oleh ajakan
Duryodana yang berniat mengadakan pesta di hutan tersebut, niatan
Duryodana tersebut tentu saja untuk tujuan menghina para Pandawa. Namun
yang terjadi mereka malah berselisih dengan kaum Gandharwa pimpinan
Citrasena. Akibatnya Duryodana ditangkap oleh Citrasena.
Yudhistira
yang mendegar kabar tersebut segera menyuruh Bima dan Arjuna untuk
menolong Duryodana. Pada awalnya mereka menolak, terlebih Bima yang
memang memiliki dendam kesumat terhadap Duryodana. Namun, setelah
Yudhistra berniat bertarung sendirian, akhirnya dengan terpaksa Bima dan
Arjuna berangkat dan menolong Duryodana. Duryodana yang tadinya berniat
mempermalukan para Pandawa akhirnya malah menjadi malu sendiri.
Peran
Yudhistira dalam peperangan Pandawa melawan Kurawa di Bharatayuddha
sangat besar. Yudhistira memilik strategi yang cukup ampuh saat
menghadapi Druna, keahliannya memainkan tombak pada waktu bertarung
melawan Salya, dan rasa adilnya ketika harus menghadapi Duryodana.
Setelah berakhirnya perang Bharatayudda, Yudhistira dinobatkan menjadi
Maharaja dunia dengan menjadi raja dari Hastinapura dan Amarta.
![]() |
| Lukisan yang menggambarkan perjalanan terakhir Yudhistira menuju gunung Himalaya |
Dalam
perjalanannya menuju puncak Himalaya bersama para Pandawa dan Drupadi
Bharatawarsha, Yudhistira meninggal dan ia menjadi orang terakhir yang
meninggal dalam perjalanan menuju Himalaya dan masuk ke surga. Lagi-lagi
di surga ia harus menerima ujian dan berhasil melewatinya.
2. BHIMASENA ATAU BIMA
Tokoh
Pandawa kali ini adalah Bheema atau Bima. Bima merupakan putra kedua
dari Pandu dan Dewi Kunti. Dalam kisah disebutkan bahwa Bima merupakan
titisan dari Batara Bayu atau dewa angin. Bima yang memiliki tubuh yang
gagah dan berotot adalah orang yang paling kuat dari para Pandawa
lainnya. Meski memiliki sifat yang kasar dan cepat marah, namun Bima
memiliki hati yang sangat lembut. Bima dikenal sebagai salah seorang
dari Pandawa yang paling ditakuti oleh musuh.
![]() |
| Bima dalam pewayangan Indonesia |
Dalam
bahasa sansekerta Bima berarti “mengerikan”, Bima juga memiliki nama
lain yaitu Werkodara, Bayusuta, dan Bhimasena. Senjata Bima adalah
kekuatan dan pusakanya yang berupa Gada Rujakpala. Dalam budaya Jawa,
Bima dikenal memiliki pusaka Kuku Pancakenaka, Alugara, Bargawa dan
Bargawasta.
Kekuatan
Bima mulai menonjol ketika dirinya masih berusia anak-anak, ia menyimpan
kekuatan yang sangat besar dibanding anak sebayanya. Sebagai anak
kecil, Bima juga kerap jahil dan suka mengisengi sepupunya Kurawa. Salah
satu orang yang sering menjadi korban kejahilannya adalah Duryodana,
dan karena itu pula Duryodana menjadi sangat benci dengan Bima.
Kekuatan
semakin bertambah ketika ia dan saudaranya yang lain (Pandawa dan
Kurawa) sedang bermain di Sungai Gangga. Para Kurawa memberikan makanan
dan minuman yang beracun pada Bima. Bima yang tidak mengetahui ulah para
Kurawa segera memakan semua makanan tersebut sehingga pingsan. Oleh
Kurawa, ia kemudian diikat dalam sebuah rakit dan dohanyutkan di Sungai
Gangga.
Ditengah
sungai muncul ular-ular yang segera mematuki tubuh Bima, dan ajaibnya
bisa-bisa dari ular tersebut justru menjadi penangkal racun dari makanan
yang telah ia makan tadi. Seketika Bima pun tersadar dan langsung
membunuh ular-ular itu. Salah satu ular yang berhasil kabur melaporkan
kejadian tersebut pada sang raja ular “Antaboga”.
Mendengar
laporan tersebut, sang raja ular mengundang Bima dan memberinya dengan
minuman yang jika diminum maka orang yang meminumnya akan memiliki
kekuatan yang setara dengan sepuluh ekor gajah besar, dan Bima telah
meminum hingga tujuh mangkuk!.
Dalam kisah
lain disebutkan ketika Bima sampai di kerajaan raksasa Hidimbawana. Bima
bertemu dengan seorang putri raksasa yang bernama Hidimbi atau Arimbi.
Keduanya kemudian saling jatuh cinta, namun kakak Arimbi yang bernama
Hidimba marah besar mengetahui hal tersebut , karena menganggap raksasa
tidak pantas bercinta dengan seorang manusia. Hidimba pun mengajak Bima
untuk bertarung.
Dalam
pertarungan Bima berhasil membunuh Hidimba, dan menikahi Arimbi. Dari
hasil percintaanya dengan Arimbi, Bima memiliki seorang putera yang
diberi nama Gatotkaca. Nantinya, selain Gatotkaca Bima juga memiliki
beberapa anak yaitu Antasena, Antareja, Sutasoma, dan Sarwaga.
Dalam perang
besar Bharatayuddha, Bima adalah panglima perang dari Pandawa. Dalam
perang tersebut Bima mati-matian bertarung satu lawan satu dengan
Duryodana. Dalam pertarungan yang tidak seimbang tersebut karena
Duryodana ternyata seorang sakti yang tidak bisa terluka, Bima terus
menyerang Duryodana hingga kecapaian.
![]() |
| Petarungan Bima melawan Duryodana |
Dalam kisah
lain disebutkan bahwa kesaktian Duryodana didapatkan ketika dirinya
masih bayi, ia dimandikan oleh ibunya dengan air suci, namun ketika
sedang diguyur oleh air suci itu sebuah daun gugur dan menutupi paha
Duryodana, sehingga bagian pahanya tidak terkena air suci. Krisna segera
memanggil Arjuna untuk memberi tahu Bima tentang kelemahan Duryodana
tersebut. Karena tidak memungkinkan untuk memberitahu Bima dengan
kata-kata , Arjuna menunjuk pahanya yang langsung dimengerti oleh Bima
dan segera menghantamkan senjatanya pada bagian paha Duryodana yang
langsung ambruk seketika.
Kehidupan
Bima berakhir dalam perjalannnya menuju gunung Himalaya, ia meninggal
secara sempurna dan masuk surga sebagaimana saudaranya yang lain.
- – -
3. ARJUNA
Arjuna yang
berarti “Jujur dalam wajah dan pikiran”, Arjuna merupakan titisan dari
Batara Indra, selain itu ia juga memiliki nama lain yaitu Kururestha,
Parantapa, Wijaya, dan Sawyasachi. Keahliannya adalah memanah dengan
senjata andalannya yaitu Panah Pasopati dan Gendiwa. Dalam kisah
Mahabharata, ketampanan Arjuna membuatnya memiliki beberapa orang istri
yaitu Drupadi, Subadra, Palupi, Manuhara, Supraba, Srikandi, Sulastri,
Larasati, Jimambang, Ratri, Dresanala, Wilutama, Antakawulan,
Juwitaningrat, Maheswara, Retno Kasimpar, Diyah Sarimaya, Gandawati, dan
Citranggada.
![]() |
| Arjuna dalam pewayangan Indonesia |
Arjuna
adalah putera ketiga dari Pandawa dan merupakan anak terakhir dari Raja
Pandu dan Dewi Kunti. Dari kelima orang Pandawa, Arjuna dikenal sebagai
sosok yang sangat rupawan. Arjuna juga dikenal memiliki kedekatan dengan
Kresna, dan Arjuna juga yang pernah melihat secara langsung perwujudan
semesta dari Kresna. Selain itu ia juga merupakan satu-satunya tokoh
Pandawa yang mendapat ajaran Bhagawadgita atau dikenal sebagai Nyanyian
Dewata.
Arjuna
memiliki keprinadian yang mulia, berjiwa ksatria, kuat iman dan gagah
berani. Dia adalah seorang pertapa yang teguh. Ketika dia bertapa, tak
akan ada yang bisa mengganggunya. Oleh karena hal itu, Kresna sangat
menghargai keteguhan Arjuna sehingga Kresna memanggilnya “kawanku”. Satu
kelebihan Arjuna yang tak tertandingi adalah hasrat menolongnya. Dia
bahkan bersumpah bahwa akan membunuh siapapun yang berani melukai
kakaknya, Yudhisthira.
Dalam sebuah
kisah diceritakan bahwa ketika para Pandawa sedang berada di Kerajaan
Panchala, Arjuna dan Bima mendengar sebuah sayembara yang berhadiah
seorang putri raja, yaitu Drupadi. Sayembara tersebut adalah memanah
ikan kayu dengan hanya melihat bayangannya saja di langit-langit
balairung. Pada awalnya Karna berhasil menyelesaikan sayembara tersebut,
namun Drupadi menolaknya. Dan ketika Arjuna berhasil menyelesaikan
sayembara itu, Drupadi tidak dapat menolaknya karena terkagum-kagum
dengan ketampanan Arjuna, sheingga bersedia diperistri oleh Arjuna.
Mereka
kemudian kembali pulang ke Hastinapura dan bermaksud menceritakan hal
tersebut pada ibu mereka. Pada saat itu Dewi Kunti sedang memasak ketika
para pandawa mengatakan bahwa mereka membawa hadiah, karena tidak
melihat apa yang dibawa oleh anak-anak mereka, Dewi Kunti pun menjawab
bahwa hadiah tersebut harus dibagi sama rata dengan saudara mereka. Dan
atas perintah sang ibu, kelima orang Pandawa itu pun memperistri
Drupadi, dan membuat aturan yaitu barangsiapa yang mengganggu kemesraan
salah seorag dari mereka ketika sedang bersama istrinya (Drupadi) dalam
kamarnya, maka orang itu akan dihukum dengan masa pembuangan selama satu
tahun.
Pada suatu
hari ketika Yudhistira dan Drupadi sedang bermesraan di dalam kamarnya,
tiba-tiba dikejutkan oleh kehadiran Arjuna yang mencari senjatanya di
dalam kamar tersebut. Ternyata Arjuna melakukan hal tersebut dengan
terpaksa, lantaran untuk membantu seorang pertapa yang melaporkan bahwa
pertapaannya diganggu oleh raksasa. Akibatnya Arjuna harus dibuang
selama satu tahun.
Selama dalam
pembuangan, Arjuna berkeliling Bharatawarsha atau India Kunia, dan dari
perjalanannya itu ia menikah dengan Dewi Palupi dari Istana Nagaloka
yang berada di sekitar sungai Gangga. Ketika melewati Himalaya, Arjuna
juga bertemu seorang wanita bernama Citranggada dari Manipura yang
merpakan putri dari Raja Citrasena. Mereka pun akhirnya menikah dengan
satu syarat yaitu jika kelak anaknya adalah seorang pria maka anaknya
harus tinggal di Manipura untuk meneruskan tahta kerajaan, dan akhirnya
Citranggada benar-benar melahirkan seorang putra yang diberinama
Babruwahana, dan sesuai kesepakatan, anak mereka harus tinggal di
Manipura.
Perjalanan
Arjuna pun berlanjut dan kali ini telah sampailah ia di Dwaraka dimana
ia merasa tertarik dengan seorang putri yang bernama Subadra, adik dari
Kresna dan Baladewa. Arjuna menyamar sebagai seorang pertapa dan tinggal
di kediaman Baladewa yang sebenarnya tidak disetujui oleh Kresna.
Suatu hari
Arjuna benar-benar menyatakan sukanya pada Subadra, Subadra pun ingin
menikah dengan Arjuna di Amarta, sehingga keduanya pun kabur dengan
sebuah kereta kuda yang telah disiapkan oleh Kresna. Mendengar hal
tersebut, Baladewa pun marah besar. Tetapi Kresna kemudian meyakinkannya
bahwa itu adalah keinginan dari adiknya sendiri. Baladewa pun bersedia
menerimanya dan menggelar acara pernikahan di Amarta bersama-sama kaum
Yadawa. Setelah sempat tinggal selama beberapa bulan, mereka kemudian
pulang, sedangkan Kresna tetap tinggal.
Sejak itulah
Kresna dan Arjuna menjadi teman dekat. Dikisahkan pada suatu hari
ketika mereka tengah berkemah di dekat sungai Yamuna, di tepi hutan
Kandawa. Tiba-tiba Dewa Api Agni muncul dan berkata bahwa hutan Kandawa
seharusnya sudah hangus, namun dilindungi oleh Dewa Indra, ayah Arjuna,
dengan dalih untuk melindungi Taksaka (teman Dewa Indra) yang tinggal di
dalam hutan tersebut. Akhirnya Arjuna dan Kresna bersedia membantu Agni
dengan meminta sebuah senjata yang paling kuat agar mampu menghalau
gangguan. Agni segera memanggil Baruna (Dewa Lautan) yang lantas
memberikan sebuah Gendiwa dan tabung berisi anak panah yang tak akan
pernah habis untuk Arjuna. Sedangkan Kresna menerima sebuah senjata
pusaka yaitu Cakra Sudarsana. Keduanya pun berhasil membakar hutan
Kandawa hingga habis tak bersisa.
Pada saat
Yudhistira mengalami kekalahan dalam bermain dadu, para Pandawa akhirnya
dibuang ke hutan selama 12 tahun. Masa pembuangan tersebut membuat
Arjuna mengambil kesempatan untuk bertapa demi memperoleh kekuatan
barunya. Ia bertapa di Gunung Indrakila, dan dalam pertapaannya itu
Arjuna sempat digoda oleh tujuh bidadari, namun gagal. Para bidadari itu
kemudian kembali ke Kahyangan dan menceritakan hal tersebut pada Dewa
Indra.
Dewa Indra
kemudian turun menemui Arjuna dalam perwujudan seorang pendeta. Dalam
perbincangan antara mereka, Arjuna mengungkapkan kalau tujuan dirinya
bertapa adalah ingin menambah kekuatan untuk menghadapi Kurawa.
Mendengar hal itu, Dewa Indra memberikan sebuah senjata pusaka. Arjuna
pun kembali meneruskan pertapaannya, dan kali ini ia diganggu oleh
seekor babi raksasa kiriman Dewa Siwa. Arjuna yang merasa terganggu
segera keluar dan memanah babi tersebut, dan pada saat bersamaan Dewa
Siwa yang menyamar sebagai pemburu juga memanah babi itu, sehingga
klaim-mengklaim siapa yang berhasil membunuh babi itu pun terjadi. Namun
ketika Arjuna mencoba memanah Siwa, Dewa Siwa menampakkan wujud
aslinya, seketika Arjuna menyesali perbuatannya dan meminta maaf, namun
Siwa justru memberinya sebuah pusaka yaitu Busur Pasopati.
![]() |
| Arjuna memanah seekor babi | gambar wayang.wordpress.com |
Diceritakan
beberapa saat kemudian, Arjuna kemudian dijemput para penghuni
Kahyangan untuk menemui Dewa Indra dan menghabiskan waktu beberapa
tahun. Di sana ia kemudian bertemu dengan seorang bidadari cantik yang
bernama Urwasi. Namun karena menolak ajakan nikah dari Urwasi, Arjuna
kemudian dikutuk menjadi banci!. Hal tersebut justru dianggap
menguntungkan bagi Arjuna, karena dengan begitu ia bisa menyamar sebagai
guru tari di Kerajaan Wirata.
Dalam perang
Bharatayuddha, Arjuna selalu dipandu oleh Kresna. Selama peperangan
tersebut Arjuna berhasil mengalahkan beberapa ksatria-ksatria hebat dari
Kurawa. Dan pada perang hari ke-10, ia harus berhadapan dengan kakeknya
Bhisma yang menjadi panglima perang Kurawa. Arjuna sempat mengalami
kegalauan karena ia tidak tega jika harus bertarung dengan kakeknya
sendiri. Namun dengan saran dan bantuan dari Kresna dan juga Srikandi,
Arjuna pun berhasil mengalahkan Bhisma.
![]() |
| Bisma gugur tanpa menyentuh tanah karena terhalang oleh panah-panah yang menembusnya |
Pada hari
ke-17, Arjuna memulai pertarungan sengit melawan Karna (kakak dari
Pandawa), dalam pertarungan tersebut Arjuna hampir terkena panah dari
Karna namun berhasil loloh setelah dibantu oleh Kresna. Arjuna berhasil
memenangkan pertarungan dengan melesatkan panah Rudra tepat pada kepala
Karna saat kereta Karna terjatuh.
Seteah
perang usai, Arjuna kemudian mengunjungi Manipura untuk menemui anaknya
Babruwahana yang sudah menjadi raja. Namun ia kemudian terbunuh di
tangan anaknya sendiri. Diceritakan pula bahwa Arjuna kemudian
dibangkitkan kembali oleh istrinya yang juga ibu dari Babruwahana.
Seperti saudaranya yang lain, dalam perjalannya ke gunung Himalaya,
Arjuna kehilangan semua kekuatan dan senjata-senjatanya. Akhirnya Arjuna
meninggal secara sempurna dan masuk surga.
- – -
4. NAKULA DAN SADEWA
Nakula dan
Sadewa merupakan anak yang terlahir dari istri Pandu yaitu Madri karena
bantuan Batara Aswin (Dewa Tabib). Nakula dan Sadewa adalah anak kembar
dimana Nakula sebagai saudara yang lebih tua. Nakula memiliki wajah yang
tampan dari Sadewa namun Sadewa lebih cerdas dari Nakula. Keduana
merupakan anggota termuda dari Pandawa.
![]() |
| Nakula dan Sadewa dalam pewayangan Indonesia |
Disebutkan
bahwa Nakula dan Sadewa adalah titisan Dewa Aswin. Nakula memiliki nama
asli Pinten, sedangkan Sadewa memiliki nama asli Tansen. Sedangkan nama
lain untuk Nakula adalah Grantika, dan nama lain untuk Sadewa adalah
Tantripala. Keahlian mereka adalah menggunakan senjata pedang, dan
masing-masing memiliki pusakanya sendiri-sendiri. Nakula memiliki pusaka
Cupu Tirtamanik, sementara Sadewa memiliki pusaka Maniktira.
Nakula dan
Sadewa memiliki kedekatan dengan alam, dan mereka memilik kelebihannya
masing-masing, yaitu Nakula yang mahir dalam merawat kuda sedangkan
Sadewa lebih mahir merawat Sapi. Seperti juga para Pandawa lainnya,
Nakula dan Sadewa dilatih oleh Resi Druna.
Dari
keduanya, Nakula yang lebih aktif dan sering bercanda, ia sering
mengawasi kenakalan yang dilakukan oleh kakaknya, Bima terhadap pada
Kurawa. Selain itu Nakula juga sering menyombongkan ketampanannya.
Sadewa yang
meski berusia lebih muda namun memiliki kebijaksanaan yang sangat
tinggi. Bahkan kakaknya sendiri, Yudhistira menyebut kalau Sadewa lebih
bijak dari guru para dewa “Wrehaspati”. Sadewa memiliki kemampuan
meramal peristiwa yang akan terjadi namun ia akan dikutuk (Kepalanya
akan belah dua) jika menceritakan hasil ramalannya tentang masa depan.
Sadewa lah salah satu anggota Pandawa yang paling disayangi oleh Dewi
Kunti.
![]() |
| Perjalanan para Pandawa ke gunung Himalaya |
Dikisahkan
dalam perjalanan terakhir menuju puncak Himalaya, Sadewa menjadi
anggota Pandawa yang pertama meninggal setelah Drupadi. Setelah itu
Nakula pun meninggal dunia menyusul saudara kembarnya itu. Namun
keduanya berhasil meninggal dalam keadaan sempurna dan diterima di
surga.
Itulah
beberapa cerita dan kisah kehidupan Pandawa yang terwujud dalam
Mahabharata, sebuah perwujudan pertentangan antara kebaikan dengan
keburukan, kebenaran dengan kebathilan, dan antara Pandawa dengan
Kurawa. Pada kesempatan selanjutnya kita akan bercerita mengenai tokoh-tokoh paling berpengaruh dari para Kurawa.
Baca juga bagaimana pengorbanan Drupadi ketika harus menerima hinaan dari para Kurawa di sini: DRUPADI di antara cinta, pengorbanan, dan pengabdian.
Baca juga bagaimana pengorbanan Drupadi ketika harus menerima hinaan dari para Kurawa di sini: DRUPADI di antara cinta, pengorbanan, dan pengabdian.














Komentar
Posting Komentar