Cinta dan Airmata

           Tanggal : Kamis, 18 September 201

Siang itu diawal bulan Oktober tahun 1995...matahari siang di tanah Sawitto yang lebih dikenal Pinrang yang merupakan salah satu kota Kabupaten yang berada didaratan Sulawesi Selatan..... teriknya matahari disiang itu seakan akan memangsa setiap orang yang berada dijalanan, aku adalah seorang anak yang dianggap berdosa sehingga dengan menebus kesalahan seakan aku dihukum dengan berjalan kaki seorang diri dari salah satu Desa dibilang Lampa yang masuk dalam kecamatan Duampanua, yang merupakan tempat tingga aku beserta isti dan kedua anak-anakku yang masih balita setelah kepindahan aku dari Kota tepian Samarinda, tak lain untuk mengikuti yang semata untuk kebahagiaan aku, istri dan anak-anak aku yang basih kecil...

Langka demi langka aku jalani dibawah terinya matahari ditengah pukul 11.30 Wita,...dengan deraian air mata aku melangka pergi ...walaupun sebenarnya hatiku menolak....iparku yang laki-laki dari itriku yang cukup keras yang mencampuri rumah tanggaku sehingga aku harus pergi dari orang yang sangat aku sayangi....

Kususri jalan Lampa, Pekkabata dengan jalan kaki menuju Pare-Pare...hatiku galau dicampur kecewah dan rindu..tangisan aku menjadi ketika teriknya matahari yang membuat aku keringat bercucuran sehingga tidak bisa membedahkan antara keringat dan airmata....aku terus melangka ua pipih dan pergi dihatiku selalu berdoa dan sesekali berguman....Kejam...kejam....kejam....namun tak terdengar oleh siapaun......

Sesekali aku istrirahan dibawah pohon dipinggir jalan yang rindang...tangisan rindu kepada kedua anak-anak, Nurmadiyah dan Zahrial...sehingga aku sedikit sok...namun tetap kupaksakan diri untuk tetap berjalan....airmata tak hentinya bercucuran membasahi kedua pipih dan bajuku....mulutku tetap berdoa Yaa Allah...Hukuman apa yang engkau berikan kepada aku sehingga keadaan aku seperti ini Yaa Allah.....

Bukan berarti aku tak punya duit untuk membayar poete-pete istilah orang Sulawesi Selatan bagi taksi angkutan kota, seperti adanya suatu kemando untuk tetap berjalan untuk merai hikmanya..... Tibalah di Kota Sawitto sekitar pukul 15.30 sore, aku istirahan sejenak dibawah pohon ketika hendak keluar dari kota Sawitto menuju Pare-Pare...tiba-tiba seorang bapak yang diperkirakan berusi sekitar 50 tahun mendorong gerobak dengan muatan barang jualannya juga turut istirahan berteduh bersamaku...

Aku berusaha menutupi kesedihan aku akibat bercucuran airmata dengan bajuku untuk memberikan mukaku,...namun sang bapak tersebut rupanya tau apa yang aku alami....tiba-tiba sang bapak tersebut menyodorkan air minum yang berada dalam botol aku miliknya....dan mengatakan...."minumlah nak janganlah banyak berpikir dengan persolan yang dihadapi, karena tidak akan pernah selesai," .... airmataku tak tertahan dan berjujuran ketika sang bapak itu mengatakan lagi..."Saya hidup sendiri dengan dua orang anak satu perempuan dan satu lki-laku yang ditinggal pergi oleh ibunya ke malaysia sudah belasan tahun tanpa ada kabar sehingga demi untuk anak-anak bekerja seperti ini untuk mendapatkan sesuap nasi......

Pukul 16.00 lewat sepuluh menit kembali aku melangka pergi,...langka kakinya perlahan semakin lambat karena kelelahan .... bayangan waja kedua anakku yang masih kecil dengan lucunya seolah bermain dihadapan ku membuat aku kembali semangat...saat itu sekitar pukul 19.30 Wita melewati jalan seputar daerah Suppa...airmata dan peluh keringat terus mbercucuran membasahi pipih dan bajuku .... Tiba-tiba langkaku terhenti seolah mendengan teriak anakku memanggil Bapak...bapak ...bapak.... tangisan semakin jadi dan terus melangka hingga tiba di kota ParePare sekitar pukul 21.30 malam.....

Tanpa tujuan yang pasti setelah sampai di ParePare malam itu dan saat melewati Pasar Lakessi tiba-tiba seorang anal laki-laki yang baru berusia 7 tahun yang sedang makan nasi goreng memanggilku.....saat mendekatinya ... hatiku tambah terisi setelah mengatakan saya makan disini saya juga tidur disini pinggir toko....dan pginya bisa membantu angkat jualan orang dan mendapatkan uang seribu untuk bisa beli nasi....bapak dan ibuku sudah pisa saat saya masih umur 4 tahun namun saya tidak tau bapak dan ibu ada dimana.....tangisanku semakin menjadi mengenang kedua anakku yang masih kecil....apakah nasib mereka nanti.........Walaupun aku tidak mandi seharian dan kelelahan .....sesampailah saya di sebuah Masjid ditengah kota ParePare...aku mengambil air Wuduh dan menjalankan Sholat Isah....dan berdoa...Yaa Allah Ya Rabbi...apakah ini merupakan hukuman bagiku maka hukumlah aku dan bilah perlu cabutlah nyawaku sebgai penebusnya Yaa Allah namun jangan hukumlh anak-anakku kelak karena mereka tak tau apa apa yang....karena kelelahan dan kecapeana maka tertidur dan terlelap di terasmasjid hingga dbangunkan jama"ah dipagi ubuh...(agajali)..>>>Baca juga Kisah Sedih Anak Rantau di Bumi Sawitto>>>

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Istri Mantan Dirut Bank Kaltim di Dakwa Lakukan Perjinahan

5 Warga Kota Tepian Samarinda Diduga Gabung ISIS